selamat datang

SELAMAT DATANG DAN SELAMAT MEMBACA

Saturday, September 28, 2013

Mengatasi anak kecanduan rokok

cara Menangani Anak Kecanduan Rokok

mencegah anak merokok Kenikmatan semu merokok semakin melanda generasi muda negeri ini. Bagaimana dengan buah hati Kawan Kapsul? Selain menimbulkan bencana kesehatan, merokok pada anak merupakan pintu gerbang menuju penggunaan narkoba. Tentunya bukan tanpa alasan perusahaan rokok menyasar remaja saat perokok tua hilang, entah karena berhenti atau meninggal, remajalah yang akan melanjutkan tongkat estafet tersebut.
Dengan kata lain, generasi muda kita dikepung dan digiring dari berbagai arah oleh produsen rokok. Penyebab anak merokok sangatlah beragam, tapi umumnya dari tekanan kelompok, anak tidak akan berdaya tehadap tekanan ini. Pilihannya hanya dua, ikut atau keluar kelompok. Celakanya, anak cenderung memilih yang pertama. Pemicu pertama anak merokok adalah lingkungan pertemanan dan keluarga.
Di kota besar kelompok sosial lebih berpengaruh. Bila saat puberitas, orang tua dan guru adalah orang-orang yang terpenting dalam kehidupan anak, maka begitu menginjak remaja, teman justru hal terpenting bagi mereka. Anak-anak yang tak bedaya menghadapi tekanan untuk menjadi perokok adalah mereka yang tidak mempunyai kebanggan pada diri mereka sendiri. Biasanya mereka ini tidak memiliki atau merasa tidak memiliki apapun yang dapat dibanggakan dari diri mereka. Misalnya, tidak pintar secara akademis, tidak menonjol pula dalam sisi olah raga, musik, atau apapun.
Bagaimanapun anggapan teman bentuk dan rupanya dianggap penting melebihi apa pun, sehingga harus diperhatikan. Runyamnya , aktivitas merokok diterima atau ditanggapi secara wajar dalam kehidupan sosial kita, bahkan di beberapa daerah, merokok dianggap sebagai bagian dari tradisi. Gencarnya iklan dan promosi perusahaan rokok, yang umumnya menyasar pada aktivitas remaja, turut memperparah keadaan.
Bayangkan saja, dari mulai konser musik, sampai olahraga, yang notabene seharusnya mendidik pola hidup sehat, disponsori perusahaan rokok. Bahkan perusahaan rokok pun ikut masuk ke dunia pendidikan. Misalnya, mendanai sejumlah pentas seni sekolah dan pemberian beasiswa pelajar. Bukan saja para remaja laki-laki, anak perempuan pun banyak yang terpengaruh oleh rokok yang menurut lebih dari sepertiga responden remaja putri dianggap salah satu cara diet. Atau anggapan rokok mild itu lebih aman, padahal tidak sama sekali.
Peran orang tua sangatlah penting, saat ini banyak orang tua yang keduanya bekerja sehingga kontrol terhadap perkembangan anak sangatlah lemah. Padahal, anak yang belum dewasa mutlak tanggung jawab mereka. Apalagi anak masa kini cenderung kritis dan kerap tidak puas dengan jawaban orang tua, sehingga mereka mencari jawaban dari teman. Dan terkadang informasi dari teman bisa menyesatkan. Lebih menyulitkan lagi jika orang tuanya juga perokok. Anak dapat dipastikan tidak akan memperoleh jawaban dari berbagai tanda Tanya yang diajukan seputar rokok.
Terkadang lingkungan sekolah pun menjadi sasaran bagi murid untuk merokok, tengok saja sejumlah sekolah yang staf pengajarnya masih terlihat santai mengumbar asap rokok di depan murid mereka. Sepulang sekolah biasanya mereka nongkrong itulah yang memicu murid untuk merokok. Sekolah sejatinya merupakan tempat yang potensial meredam meningkatnya perokok muda. Namun kemampuan pengawasan sekolah sangatlah terbatas, jadi murid yang berada di luar pengawasan sekolah, sulit sekali melakukan pengawasan.
Bagaimana bila anak terlanjur merokok? Marah dan sedih adalah perasaan yang mungkin dialami orang tua begitu mengetahui buah hatinya merokok, lalu apa langkah yang bisa dilakukan orang tua bila anak ketahuan merokok?
Jangan dilarang
Walupun sulit, namun tindakan melarang, hanya akan memperburuk keadaan. “Anak dapat semakin acuh dan jauh dari orang tua,” padahal semakin jauh si anak dari orang tuanya semakin sulit pula menanganinya.
Terima kenyataan
Yak, ini semakin sulit bagi orang tua. Bahkan yang terekstrim. Mengizinkan mereka merokok di depan orang tua, percuma melarang karena kita semua sama-sama tahu, mereka akan merokok di luar, lebih baik di depan orang tua sehingga dapat terjadi dialog, dan jangan lupa aprsiasinya.
Salurkan
Diharapkan lewat dialog yang terjadi, orang tua dan anak menjadi saling memahami. Seiring dengan terciptanya kepercayaan, ajak anak melakukan aktivitas lain.
Berpikir masa depan
Ajak anak memikirkan masa depan lewat cita-cita dan perencanaan. Demikianlah, semoga bermanfaat.