selamat datang

SELAMAT DATANG DAN SELAMAT MEMBACA

Saturday, May 25, 2013

Jepang Dikecam atas Kasus Budak Seks

Jepang Dikecam atas Kasus Budak Seks

Jum'at, 24 Mei 2013 10:00 wib
Aulia Akbar - Okezone
Foto : Eks-budak seks Jepang (AFP) Foto : Eks-budak seks Jepang (AFP)
LONDON - Amnesty International mengecam sikap diam Jepang atas isu budak seks atau "perempuan penghibur." Lembaga pembela HAM itu juga merilis laporan tahunannya pada 23 Mei lalu.

Menurut laporan Amnesty International, Pemerintah Jepang terus menerus mengabaikan keadilan bagi para korban sistem perbudakan seks militernya di era perang. Perdana Menteri Shinzo Abe juga dikritik karena ucapannya ketika belum menjabat sebagai kepala pemerintahan.

"Pada 4 November, pemimpin oposisi Shinzo Abe menjadi salah satu politisi yang menandatangani iklan di suratkabar Amerika Serikat (AS) yang berisikan bantahan terhadap perbudakan seks militer Jepang di era Perang DUnia II," demikian laporan Amnesty International, seperti dikutip Asahi Shimbun, Jumat (24/5/2013).

"Ketika catatan HAM Jepang berada dalam pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Pemerintah Jepang mengklaim, kompensasi terhadap mantan 'perempuan penghibur' itu sudah diselesaikan lewat Perjanjian Damai San Fransisko," lanjut laporan tersebut.

Rajiv Narayan, salah seorang penulis laporan Amnesty International untuk Jepang mengatakan bahwa kekerasan seksual yang dilakukan pasukan Jepang di era perang, masih menjadi pembahasan penting saat ini. Narayan menambahkan, Negeri Sakura itu bisa saja menjadi pemimpin bagi negara-negara penegak HAM bila mereka mau meminta maaf dan memberikan kompensasi terhadap eks-budak seks itu.

Seperti diketahui, pemerintahan Abe yang saat ini berkuasa di Jepang adalah pemerintahan konservatif. Segala ungkapan yang berupa kesalahan-kesalahan Jepang di masa lalu kerap dibantah guna meningkatkan martabat negara tersebut.

Meski demikian, sikap kontroversial itu turut dikecam oleh banyak negara-negara di dunia ini terutama negara Asia yang menjadi korban penjajahan Jepang. Mereka merasa tersinggung karena perempuan-perempuan yang dulu dipekerjakan di rumah bordil pasukan Jepang adalah perempuan Korea, China, dan sejumlah negara Asia lainnya. (AUL)
www.okezone.com
Mr.bacaseru